Alasan Mengapa Minat Literasi di Indonesia Masih Rendah

Penulis: Nasya Nariyah

 

Tingkat literasi masyarakat memiliki hubungan yang sangat penting dengan kualitas dan kemajuan suatu bangsa. Budaya membaca yang telah tertanam dalam masyarakat menjadi tolok ukur bagi perkembangan serta peradaban suatu bangsa. Menurut data dari UNESCO, dari setiap 1000 penduduk Indonesia, hanya satu orang yang memiliki minat baca, yang menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia rendah dengan indeks hanya mencapai 0,001. Rata-rata, masyarakat Indonesia hanya membaca 0-1 buku setiap tahunnya. Perbandingannya dengan warga Amerika Serikat dan Jepang sangatlah mencolok, di mana mereka terbiasa membaca 10-20 buku dan 10-15 buku setahun secara berturut-turut. Kondisi ini menggambarkan sebuah tragedi di mana literasi masih dianggap sebelah mata dalam negara kita.

Tingkat literasi yang rendah di Indonesia merupakan masalah kompleks yang memiliki akar penyebab yang beragam. Lalu faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya tingkat literasi di Indonesia?

1. Akses Terbatas ke Pendidikan

Meskipun upaya telah dilakukan untuk meningkatkan akses terhadap pendidikan di Indonesia, masih ada daerah-daerah terpencil dan pedesaan yang mengalami kesulitan dalam akses terhadap institusi pendidikan. Jarak yang jauh dan keterbatasan infrastruktur dapat membuat sulit bagi anak-anak untuk mengakses sekolah.

2. Kualitas Pendidikan yang Rendah

Meskipun sekolah mungkin tersedia, kualitas pengajaran dan kurikulum pendidikan tidak selalu memadai. Kurangnya sumber daya seperti buku teks yang mutakhir dan pelatihan guru yang memadai dapat menghambat kemampuan siswa untuk mengembangkan keterampilan membaca, menulis, dan berhitung.

3. Kurangnya Kesadaran akan Pentingnya Literasi

Di beberapa komunitas, literasi mungkin tidak dianggap sebagai prioritas. Beberapa orang mungkin tidak menyadari bahwa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sangat penting untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik, seperti memperoleh pekerjaan yang layak atau membuat keputusan yang tepat.

4. Kondisi Ekonomi yang Mempengaruhi Akses Pendidikan

Keluarga miskin seringkali menghadapi tantangan dalam memberikan pendidikan yang memadai kepada anak-anak mereka. Mereka mungkin terpaksa memprioritaskan kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal, daripada biaya pendidikan tambahan seperti buku dan peralatan sekolah.

5. Keanekaragaman Bahasa

Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah yang berbeda. Hal ini menciptakan tantangan dalam menyediakan materi pembelajaran yang sesuai dengan bahasa-bahasa lokal, sehingga beberapa anak mungkin mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan di sekolah.

6. Perubahan Budaya dan Penggunaan Teknologi

Perubahan budaya, termasuk meningkatnya penggunaan teknologi informasi, telah mengubah cara orang belajar dan berinteraksi dengan informasi. Namun, tidak semua orang memiliki akses atau pemahaman yang cukup terhadap teknologi ini, yang dapat meninggalkan sebagian masyarakat tertinggal dalam proses literasi digital.

Untuk mengatasi masalah rendahnya tingkat literasi di Indonesia, diperlukan upaya terkoordinasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, dan sektor swasta. Ini meliputi peningkatan akses terhadap pendidikan berkualitas, peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi, penyediaan sumber daya literasi yang memadai, serta penguatan infrastruktur pendidikan dan teknologi. Dengan upaya yang bersama-sama, diharapkan tingkat literasi di Indonesia dapat ditingkatkan secara signifikan dalam jangka waktu yang lebih panjang.

 

Editor: Rehani Zaki Putri Muspara