13.11.15

Tipe-Tipe Pelajar Saat Melakukan Presentasi



Pernah kan presentasi untuk menyelesaikan tuntutan tugas yang disuruh guru/dosen? Gue yakin setiap orang yang sekolah pasti ngerasain karena dari sini juga dilatih agar kita bisa percaya diri. Tugas kuliah gue belakangan ini banyak yang harus buat makalah dan presentasi, mulai dari kelompok gue yang presentasi sampai kelompok lain. Gara-gara presentasi ini gue jadi bisa melihat ekspresi dan cara orang-orang mempresentasikan materi yang mereka garap.


Ada yang semangat sampai yang galau karena masih belum bisa move on dari gebetannya yang udah nolak dia. Biasanya juga dalam presentasi itu ketika kelompok tersebut sudah selesai presentasi, ada juga sesi tanya jawab. Nah waktu gue dengerin presentasi temen, karena bosen gue jadi nulis tulisan ini. Seperti apakah tipe-tipe pelajar saat melakukan presentasi? Siapa tau kalian salah satunya, cekidot :

***

1.  Tipe Percaya Diri



Tipe yang satu ini adalah tipe di mana seseorang yang sedang presentasi sangat santai dan seperti memiliki panggung. Dia percaya akan kemampuannya, sehingga dia tidak takut menghadapi apapun yang terjadi. Walaupun di depannya ada mantan yang lagi bergandengan tangan dengan pacar barunya, tapi dia gak baper.

Dalam sesi tanya jawab, tipe ini berani menjawab pertanyaan dari sang penanya dengan mantap. Tidak peduli jawaban yang dia lontarkan itu benar atau salah, yang dia pikirkan dia sudah mencoba menjawab. Urusan benar atau salah itu urusan belakangan. Kecuali kalau yang nanya cewek dan yang jawab cowok, itu pasti akan selalu salah karena cowok selalu salah di mata cewek.



2. Tipe Gugup



Tipe yang sangat bertolak belakang dengan tipe yang pertama, tipe ini biasanya mengeluarkan bau-bau tidak sedap. Seperti bau keringat yang bercucuran dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tangan dan badannya bergetar dengan skala 5,5 Skala Ritcher. Ketika berbicara dia pun dengan suara yang pelan dan sering terjadi kesalahan kata saat dia berbicara.

Dalam sesi tanya jawab, dia cenderung cari aman. Jika presentasi kelompok, dia mungkin tidak berani menjawab pertanyaan dan menyuruh temannya yang jawab. Jika presentasi seorang diri dia akan panik dan pingsan di tempat.



3. Tipe Membaca Slide



Dalam presentasi biasanya kita menggunakan Power Point atau sejenisnya. Menampilkan slide yang ada dan lalu berbicara sesuai dengan apa yang ada di slide. Semua kata-kata yang ada di slide dibaca semua dan lanjut ke slide berikutnya. Begitu seterusnya hingga ke slide terakhir.

Dalam sesi tanya jawab, tipe ini akan mencoba mencari slide yang telah ia baca. Setelah itu dia akan menjawab pertanyaan dari sang penanya. Kalau gak bisa jawab, dia akan buka mbah google. Kalau masih gak bisa jawab, dia akan panik terlebih dahulu dan akhirnya suasana kelas menjadi hening dan guru/dosen membantu menjawab pertanyaan tersebut.



4. Tipe Improvisasi



Saat melakukan presentasi dia tidak terlalu terpaku dengan slide. Mungkin dia hanya membaca 1 kalimat lalu dia akan melakukan improvisasi sesuai dengan materi yang ada. Biasanya tipe ini juga akan membahas lebih ke studi kasus dan contohnya agar mudah dipahami oleh yang mendengarkan. Tipe ini akan sangat mantap jika dipadukan dengan kepercayaan diri yang kuat..


Dalam sesi tanya jawab, dia juga akan menjawab dengan siap tanpa harus melihat slide. Dia sudah tau apa yang dia bahas dan juga sudah mengerti. Dengan improvisasi tetapi tetap membahas materi yang sama akan lebih menyenangkan.



5. Tipe Motivator 



Dalam menyampaikan pesan sangat memiliki makna, “Sahabat-sahabat saya yang baik hatinya, cinta itu…” dan juga diakhiri dengan Salam Super. Contohnya om Mario Teguh seperti yang kita kenal dia adalah tipe motivator yang senang membagi motivasi kepada para pendengar setianya. Sehingga pulang dari tempat itu akan memberi semangat kepada yang mendengarkan.

Dalam sesi tanya jawab, dia akan senang sekali jika ada yang bertanya dan memberi penghargaan kepada sang penanya. Seperti tepuk tangan dari para pendengar dan mengatakan “Pertanyaan yang super.” Jawabannya pun akan dinantikan para pendengar. Lalu siap menjawab pertanyaan berikutnya.


***

Itulah beberapa tipe-tipe pelajar saat melakukan presentasi, persiapan yang matang dan rasa percaya diri akan membawa rasa tenang dan santai dalam presentasi. Apalagi dibawakan dengan improvisasi tanpa harus terpaku dengan slide, yang mendengarkan pun akan antusias untuk mendengarkan.


Tipe-tipe di atas adalah tipe yang gue lihat sendiri, bagaimana dengan kalian? Adakah salah satu tipe di atas yang merupakan cara kalian presentasi? Komen di bawah aja kalau memang ada. Oke deh, tunggu tulisan gue lainnya ya.


Written by : @rendyconan
Baca Dulu

5.11.15

Penyebab Doa Tidak Dikabulkan



Ada beberapa penyebab do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah s.w.t. Berikut ini beberapa di antaranya:

Pertama, do’a kita tidak dijawab oleh Allah s.w.t karena dosa kita. Ada hadist dari Rasulullah s.a.w dalam Sahih Muslim yang mengisahkan tentang seseorang yang mendapatkan rezeki dari jalan yang tidak halal. Karena dosa itulah, maka do’anya tidak dikabulkan oleh Allah.

Kedua, kita mungkin meminta sesuatu yang haram. Misalnya jika kita berdo’a agar dijadikan orang kaya sehingga dapat menghamburkan uang untuk berjudi, kemungkinan do’a kita tidak dikabulkan Allah. Ini dikarenakan kasih sayang Allah s.w.t kepada kita. Dia melindungi kita dari dosa berjudi itu, karenanya Allah tidak mengabulkan do’a kita.

Ketiga, Allah s.w.t tahu bahwa apa yang kita minta sebenarnya tidak baik. Kita mungkin berpikir bahwa apa yang kita minta itu baik, tapi Allah dengan kebijaksanaan-Nya tahu bahwa itu tidak baik untuk kita. Misalnya, kita berdo’a agar bisa menikah dengan seseorang, tapi Allah tahu bahwa pernikahan ini sebenarnya tidak baik bagi kita, karena jika kita menikahi orang tersebut, maka rumah tangga kita akan hancur karena ketidakcocokan sifat dengan pasangan kita, dan ujung-ujungnya kita malah bercerai. Oleh karenanya Allah tidak mengabulkan do’a kita.

Keempat, Allah s.w.t telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita di akhirat. Artinya, Allah s.w.t mungkin tidak mengabulkan do’a kita karena Allah s.w.t ingin memberikan pahala yang jauh lebih baik bagi kita di akhirat.
.
Kelima, mungkin saja do’a kita tetap dikabulkan tapi hanya ditunda. Dan Allah s.w.t menunda do’a kita karena alasan tertentu. Misalnya Allah s.w.t tahu bahwa ketika kita secara konsisten berdo’a, maka kita semakin dekat kepada Allah. Karenanya Allah s.w.t ingin agar kita semakin dekat kepada-Nya.

Alasan lain kenapa do’a kita ditunda mungkin karena Allah s.w.t sedang menguji kita. Seperti yang disabdakan Rasulullah s.a.w bahwa ketika Allah mencintai seseorang, maka Allah akan menguji orang tersebut. Apabila orang tersebut bersabar atas ujian yang dideritanya, maka Allah akan meninggikan derajatnya dan memuliakannya. Jadi ketika kita tertimpa suatu musibah dan kita merasa tidak menemukan jalan keluar, berprasangka baiklah kepada Allah. Anggaplah ujian ini sebagai kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah s.w.t

Wallahu’alam, semoga artikel ini bermanfaat, insya Allah.

Baca Dulu

19.10.15

Menambahkan Nama Suami di Belakang Nama Istri, Haramkah?

Dewasa ini ramai artikel yang dibagikan melalui jejaring sosial, yang berisikan permasalahan wanita (istri) yang menambahkan nama suami di belakang namanya. artikel tersebut menyebutkan jika penambahan nama suami di belakang nama istri itu dilarang karena menurut ajaran Islam, menisbatkan nama adalah kepada ayah bukan kepada suami. Dari situ muncullah perdebatan, pro dan kontra antar pengguna jejaring sosial dalam menyikapi hal tersebut. Bagaimanakah hukum sebenarnya?



Memang menjadi fenomena umum di masyarakat kita, bahkan di dunia jikaa wanita jika sudah menikah maka namanya disandingkan dengan nama suami. Kita juga memperhatikan banyak ibu-ibu pejabat atau di perumahan yang dipanggil justru dengan nama suaminya, misal jadi ibu Asep, ibu Ahmad, dll. Barangkali secara tersirat bermakna sebagai tanda bahwa wanita itu telah menikah, telah punya suami.

Memang masalah ini menjadi muncul karena sandingan nama suami atas nama istri terkesan merubah dari adanya hubungan darah. Maka ada yang mempermasalahkan, bahwa mestinya penyandingan nama itu dengan nama ayah, sebagaimana lazimnya dalam tradisi Arab atau Islam dengan nisbah “bin” atau “binti”. Misal, Ahmad bin Sulaiman (Ahmad putra Sulaiman), atau Fatimah binti Muhammad (Fatimah putri Muhammad).

Namun perlu diperhatikan, sejatinya dalam Islam penyematan identitas bersifat lapang dan fleksibel dan dapat diungkapkan melalui berbagai cara. Dalam sejarah pun kita dapat melihat ragam nama dengan nisbah tidak kepada ayah. Seperti ada yang menggunakan penyandingan dengan identitas status sosial, Ikrimah maula Ibnu Abbas (Ikrimah pelayan Ibnu Abbas), dengan pekerjaan, Muhammad al-Ghazzali (Muhammad tukang tenun), bahkan ada pula yang dinisbatkan kepada ibunya meskipun nama ayahnya diketahui, seperti Ismail ibnu Ulayyah Ismail anak ibu Ulayyah).

Dan jika kita perhatikan al-Qur’an, ada legitimasi dibolehkan menisbahkan dengan dasar adanya hubungan pernikahan, seperti disebutkan dalam surah at-Tahrim ayat 10 dan 11, Allah pengunakan penyebutan nama dengan sandingan nama suami, “imra`atu Nuh (istrinya nabi Nuh dan imra`atu Luth (istrinya nabi Luth), “imra`atu Fir’aun” (istrinya Fir’aun).

Adapun dalil yang digunakan sebagai dasar bagi yang mempermasalahkan bahkan sampai mengharamkan penambahan nama istri kepada nama suami, yaitu hadits, “Siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, Allah tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah.” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Juga hadits senada, “Siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya.” (HR. Bukhari dan Abu Daud).

Tentang hadits-hadits tersebut dan hadits-hadits lain yang senada, para ulama memahami sebagai diharamkannya penisbatan kepada bukan ayah sebenarnya, bukan ayah secara nasab/ayah palsu.

Pasalnya, selain sebagai bentuk kedurhakaan kepada orangtua, juga dapat merusak ketentuan hak dan kewajiban dalam beberapa aturan syariat, seperti waris, pernikahan, dan lain-lain.

Namun untuk identitas atau pengenal dan dengan tetap adanya pengakuan ayah secara nasab, (dalam aturan hukum tetap menggunakan nama ayah) tentu tidak layak sampai ada pengharaman. Terlebih jika kita perhatikan hadits riwayat Abu Sa’id al-Khudri, bahwa suatu ketika Zainab istri Abdullah bin Mas’ud datang kepada Rasulullah saw dan meminta izin untuk bertemu. Lalu ada salah seorang yang ada di dalam rumah berkata, “Wahai Rasulullah, Zainab meminta izin untuk bertemu.” “Zainab siapa?” tanya Rasul. “Istri Ibnu Mas’ud.” Lalu beliau berkata, “Ya, persilahkan dia masuk.” (HR. Bukhari). Pada hadits ini kita perhatikan penyebutan Zainab Ibnu Mas’ud di hadapan Rasul, dan beliau tidak melarangnya.

Oleh karena itu yang dilarang dalam Islam adalah menisbatkan diri atau menyandingkan nama kepada orang yang bukan ayahnya dengan menggunakan kata-kata yang menunjukkan sebagai legitimasi anak, seperti kata: anak, bin, binti dan lain sebagainya. Misal Malik bin Sulaiman, padahal ayahnya adalah Ibrahim dan sang anak mengetahui hakikatnya. Jadi yang dilarang bukan seluruh penisbatan atau penyebutan identitas. Penggunaan kata-kata tertentu untuk menjelaskan identitas seseorang sehingga menjadi kebiasaan dalam suatu masyarakat atau waktu tertentu adalah tidak apa-apa selama tidak menyeret pada kesalahpahaman adanya hubungan kekerabatan yang dilarang oleh syariat Islam.

Dapat kita simpulkan, sebagaimana juga dikuatkan oleh dewan fatwa Mesir, bahwa adanya nisbat atau penambahan nama dengan nama suami sejatinya tidaklah menafikan hubungan darah atau nasab dengan ayah. Ia tiada lain merupakan penjelas identitas. Di samping itu, perlu menempatkan problematika dengan bijak, karena larangan yang tersebut adalah bila tidak mau mengakui ayah secara nasab atau menisbatkan kepada bukan ayah sebenarnya. Namun tentu lebih baik dan lebih harus diperjuangkan untuk menciptakan kebiasaan menyandingkan nama kita, juga wanita kepada ayah, dengan menyebut bin atau binti. Demikian pula perlu dibuat regulasi pada ketentuan pemerintah, khususnya terkait penyebutan identitas harus dengan sandingan nama ayah. Sementara ini kita ketahui penyebutan bin atau binti yang teregulasi hanya pada proses pernikahan. Wallahu ‘alam.  (islampos.com)
Baca Dulu

Kalau Berteman Jangan Pilih-Pilih?

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhori & Muslim).



Terkadang timbul pernyataan "kalau berteman itu jangan pilih-pilih, harus fleksibel, ramah, bisa berbaur dengan siapapun". Benarkah seperti itu?

Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur bagaimana tata cara serta batasan dalam bergaul atau berteman. Kehidupan seseorang sedikit banyaknya dipengaruhi oleh bagaimana cara dia bergaul. Dampak buruk akan menimpa seseorang akibat bergaul dengan teman-teman yang jelek, sebaliknya manfaat yang besar akan didapatkan dengan bergaul dengan orang-orang yang baik.

Teman itu layaknya cermin, jika kita ingin mengetahui tentang seseorang, lihatlah dengan siapa dia bergaul atau berteman. Rasul shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

  المؤمن مر آه (اخيه)المؤمن 
“Seorang mukmin merupakan cerminan saudaranya yang mukmin.” (HR. Al-Bukhari)

Memilih teman bukanlah hal yang mudah, Islam memerintahkan kita untuk memilih siapa yang menjadi teman kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
المرء على دين خليله فلينظر احدكم من يخالل 
“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

Untuk memiliki kenalan, kerabat, kita memang sebaiknya bisa bersikap fleksibel dan berbaur, namun untuk berteman dekat, atau bersahabat, jelas kita harus pintar-pintar menyeleksi, karena tidak semua orang layak dijadikan teman dekat atau sahabat. Maka dari itu, orang yang kita jadikan sahabat harus memiliki sifat-sifat yang memang menunjang persahabatan sebagai berikut:

1. Berakidah lurus 
2. Orang yang berakal
3. Baik akhlaknya
4. Bukan orang fasik
5. Bukan ahli bid’ah
6. Taat beribadah dan menjauhi perbuatan maksiat
7. Banyak ilmu atau dapat berbagi ilmu dengannya
8. Tidak rakus dunia

Semoga kita memiliki teman/sahabat yang senantiasa mengajak kita ke dalam kebaikan, dan membantu diri kita untuk terus memperbaiki diri. Aamiin.
Baca Dulu

Menaklukan Laut

"Allahlah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.
(QS. Al-Jatsuyah: 12)



Dahulu, sebelum mesin kapal ditemukan, manusia menggunakan perahu atau kapal layar untuk mengarungi lautan, pergi dari satu pula ke pulau lainnya atau mencari ikan. Pada masa itu, manusia (baca: nelayan) begitu tergantung kepada cuaca, terutama angin--meskipun pada masa sekarang ketergantungan itu tetap ada.

Setelah perahu dan kapal-kapal diberi mesin, ketergantungan manusia terhadap angin semakin berkurang. Kini, ke mana pun angin berembus, kapal bisa melaju dengan cepat, meskipun harus berlawanan dengan arah angin.

Apalagi setelah kompas ditemukan, manusia semakin mudah berlayar di lautan. Kalau dulu manusia harus menguasai paling tidak sedikit ilmu perbintangan (astronomi) sederhana untuk mengetahui arah mata angin, terutama jika berlayar di malam hari, kini dengan bekal kompas, manusia dengan mudah mengetahui arah mata angin yang hendak ditujunya, meskipun di tengah laut lepas. Bahkan pada malam hari sekalipun.

Apakah kemajuan teknologi di bidang pelayaran menjadi sebuah pertanda bahwa manusia sudah mampu menundukkan laut yang penuh misteri itu? Apakah kemajuan teknologi itu benar-benar membuat manusia merdeka dari ketergantungannya kepada cuaca?, dan pada akhirnya kepada Allah yang mengatur cuaca?

Ternyata tidak! Meskipun mesin kapal ditemukan, kompas dan peralatan teknologi canggih lainnya dipergunakan, manusia tetap saja tidak bisa menaklukkan laut.

Ambisi menaklukkan alam, termasuk menaklukkan laut hanya membuat manusia semakin kerdil, Jika diumpamakan air laut, ilmu manusia hanyalah setetes saja dari air laut itu jika dibandingkan dengan ilmu Allah SWT Yang Maha Luas. Bagaimana mungkin manusia bisa menyombongkan diri di hadapan Tuhannya?

Ingatlah kisah tragis yang menimpa Titanic. Kapal penumpang termegah dan tercanggih pada zamannya itu, diklaim oleh pembuat dan pemiliknya sebagai kapal yang mustahil tenggelam. Hampir semua orang yang melihat kemegahan kapal itu mempercayainya. Tapi apa lacur, kapal yang menjadi simbol kesombongan manusia modern di lautan itu, akhirnya tenggelam di tengah samudera pada tahun 1912, justru pada pelayaran perdananya dari London ke Amerika.

Titanic
Jika kapal secanggih dan semegah titanic saja bisa tenggelam, apalagi kapal-kapal kecil yang hanya memiliki peralatan navigasi seadanya. Kapanpun Allah SWT bisa mengirimkan angin dan badai besar di tengah lautan jika Dia menghendakinya. Jika sudah demikian, tidak ada kesombongan yang bisa dibanggakan oleh manusia di tengah samudera luas. Yang ada hanya ketakutan, dan manusia beserta kapalnya hanyalah seperti kapas yang dihempaskan, seperti sebuah kisah nyata yang pernah diangkat ke dalam film berjudul Perfect Storm.

Tragedi Titanic hanya satu saja dari sekian bukti kekerdilan manusia di hadapan Tuhan-Nya. Titanic adalah bukti kelemahan dan keterbatasan manusia dalam berhadapan dengan alam ciptaan Tuhan. Maka, secanggih apapun teknologi yang dikembangkan manusia, setinggi apapun ilmu yang dimilikinya, sehebat apapun kendaraan yang dibuatnya--termasuk kapal laut dan pesawat udara--tetap saja tidak mampu menolak takdir yang Allah SWT gariskan. Akhirnya, hanya Allah SWT sajalah yang benar-benar berkuasa atas laut, udara, dan seluruh alam ciptaannya. Wallahu'alam bishshawwab.

(majalah hidayah edisi Januari 2005)
Baca Dulu